Senin, 08 November 2010

..Satu untuk Relawan..





Tak jauh beda, Seperti aku melihat sibuknya para relawan saat banjir di pasar dayeuh kolot, seperti itu pula mungkin kepanikan mereka di gunung merapi itu: teriak-teriak, kecapean, letih dan tidur tidak nyenyak.

Baginya, pagi, siang atau malam adalah sama saja. Siklus waktu yang terus berulang dengan kesibukan program-program penyelamatan. Tua, muda sampai anak-anak tak ada yang bisa tenang. Karena Sesekali tenda pengungsian harus dipindahkan akibat adanya peringatan bahwa bahaya sudah semakin dekat. Level siaga dan awas. Tak nyaman memang hidup di tenda pengungsian.

Tergambar dari tarikan nafasnya para relawan, sesekali hatinya merenung,, kapan bantuan ini datang…?? Kapan bencana ini selesai..?! apakah ini, cambukan bahwa Tuhan marah..?!! atau sedang menyadarkan..?!

Di lokasi bencana, korban dan relawan adalah senasib. relawan bisa terancam hidupnya kalau sesekali lengah. Bisa saja dia yang terjebak disana. Sekali telat bertindak, sedekat itu pula korban berjatuhan dan dia-pun bisa menjadi salah satu nama dari korban-korban itu.
Aku tahu tidak hanya korban merapi yang harus dilindungi, Aku terkadang sadar kalau semua orang terus memperhatikan korban tanpa relawan.



Tapi tak pantas bercerita tentang hati penakut para relawan.

Bukan relawan namanya kalau tidak berada di garis depan penyelamat.

Maka, kutuliskan ini sebagai bentuk kepedulianku yang tak mampu untuk membantu korban disana.

Satu untuk relawanku../

Majulah…,Bergeraklah…

Tuhan bersamamu,

Kalau kau harus di takdirkan meninggal di sana..Teman-tememanmu menantikanmu di Surga.

0 komentar:

Template by : kendhin x-template.blogspot.com