Jumat, 01 April 2011

Kewajiban sholat jum'at dan shalat berjamaah buat laki-laki

Shalat Jum’at dan shalat berjamaah hukumnya wajib bagi laki-laki, dalilnya sebagai berikut :

1. Allah berfirman :


“Hai orang-orang yang beriman, apabila sudah dipanggil untuk mengerjakan shalat pada hari Jum’at maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Al-Jumuah : 9).


2. Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :“Barangsiapa meninggalkan shalat Jum’at tiga kali karena sengaja meremehkan, maka Allah mencap hati orang itu sebagai orang munafik.” (HR Ahmad).

3. Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Sungguh aku bermaksud memerintahkan anak-anak muda mengumpulkan kayu bakar kemudian saya mendatangi orang-orang yang shalat dirumahnya (tidak berjamaah di masjid) tanpa ada alasan (yang menghalangi mereka) lalu saya bakar rumah-rumah mereka.’ (HR Muslim).


4. Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :“Barangsiapa mendengar adzan tetapi tidak mau datang ke masjid maka shalatnya tidak sempurna kecuali ia sedang udzur.” (Hadits shahih riwayat Ibnu Majah).


5. Ada seorang buta menghadap Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam dan bertanya :“Ya Rasululloh saya tidak punya orang yang membimbing saya untuk datang ke masjid. Apakah saya boleh tidak datang ke masjid? Maka Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam membolehkannya. Tetapi setelah orang buta itu mau pulang Rasululloh bertanya : Apakah kamu mendengar adzan? Ya. “jawabnya. “Kalau begitu datanglah ke masjid untuk shalat berjamaah.” (HR Muslim).


6. Abdullah bin Mas’ud berkata :

“Apabila besok ingin bertemu Rasululloh dalam keadaan muslim, maka kerjakanlah selalu shalat lima waktu apabila mendengar adzan. Karena Allah mensyari’atkan tradisi yang berasal dari hidayah (sunana alhuda) dan shalat lima waktu itu merupakan tradisi tersebut. Seandainya kamu shalat lima waktu di rumahmu seperti orang yang tertinggal di rumah, maka itu berarti kamu telah meninggalkan sunnah Nabimu. Dan kalau kamu meninggalkan sunnah Nabimu maka kamu akan sesat. Dan saya telah melihat tidak ada orang yang mengerjakan shalat di rumah kecuali orang-orang yang jelas munafik. Padahal ada seorang yang dipapah oleh dua orang untuk shalat berjamaah di masjid agar bisa bersama-sama shalat di shaff.” (HR Muslim).


KEUTAMAAN SHALAT JUM’AT DAN SHALAT BERJAMA”AH

1. Sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam“Barangsiapa mandi, setelah itu pergi untuk shalat Jum’at, kemudian ia shalat sunnah semampunya, lalu diam mendengarkan imam berkhutbah sampai selesai, dilanjutkan shalat Jum’at bersamanya, maka diampuni dosa-dosanya antara Jum’at itu dengan Jum’at yang lain, ditambah lagi dengan tiga hari lainnya. Dan barangsiapa memegang-megang batu kerikil maka telah sia-sia (shalat Jum’atnya).” (HR Muslim).


2. Sabda Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam “Barangsiapa mandi pada hari Jum’at seperti mandi junub, lalu pergi (untuk shalat Jum’at), maka seakan-akan berkurban dengan seekor unta, barangsiapa pergi (untuk shalat Jum’at) pada saat kedua, maka seakan-akan berkurban dengan seekor sapi, barangsiapa pergi (umtuk shalat Jum’at) pada saat ketiga, maka seakan-akan berkurban dengan seekor biri-biri bertanduk. Barangsiapa pergi (untuk shalat Jum’at) pada saat keempat, maka seakan-akan berkurban dengan seekor ayam. Dan barangsiapa pergi (untuk shalat Jum’at) pada saat kelima, maka seakan-akan berkurban dengan sebutir telur. Dan apabila imam telah keluar, datanglah para Malaikat mendengarkan khutbah.” (HR Muslim).


3. Sabda Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam“Barangsiapa shalat Isya’ berjamaah maka bagaikan shalat tahajjud setengah malam, dan barangsiapa shalat subuh berjamaah maka bagaikan shalat tahajjud semalam suntuk.” (HR Muslim).


4. Sabda Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam

“Shalat seorang dengan berjamaah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat di rumahnya, dan shalat di pasarnya. Hal itu karena bila seorang berwudhu dengan sempurna, kemudian datang ke masjid, tidak ada yang mendorongnya kecuali shalat dan tidak menghendaki selain shalat, maka tidak ada satu langkah yang diayunkannya melainkan telah diangkat baginya satu derajat dan dihapuskan darinya satu kesalahan, sampai dia masuk ke dalam masjid. Apabila telah masuk ke dalam masjid, maka dia berada dalam keadaan shalat selama shalat itulah yang menahannya, dan para malaikat mendo’akan untuknya selama dia berada dalam masjid tempat shalatnya, seraya mengatakan : “Ya Allah limpahkan rahmatmu kepadanya, ya Allah ampunilah dia, ya Allah terimalah taubatnya.” Mereka mendo’akan untuknya, selama dia tidak menyakiti (orang lain) dan tidak berhadats ketika berada di dalam masjid itu.” (HR Bukhari dan Muslim).

Disinilah Letak PRESTASI MANUSIA Yang Sesungguhnya

Bagi seorang Muslim, memahami untuk apa dan harus menjadi apa dia dalam hidup ini adalah sebuah keniscayaan. Artinya kita setuju atau tidak, memang begitulah kenyataannya. Hal inilah yang akan membantu untuk memilih jenis karya besar apa yang seharusnya dipersembahan kepada Sang Khalik.

Sesuatu yang betul-betul bakal menyita seluruh waktu hidup miliknya. Ia akan menjadi parameter dalam bermuhasabbah, sumber inspirasi dalam melangkah, sebagai tenaga cadangan manakala dihadang rasa lelah dan teman setia tatkala sendirian. Dia akan mengenali jati dirinya dari perenungan yang mendalam terhadap ayat : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu” (adz Dzariyat : 56).

Simpul dari serentetan perenungan bahwasanya masalah hidup setelah mati adalah masalah besar dan sangat penting dalam hidup karena kepada-Nya lah segalanya akan bermuara.

Sehingga bagi seorang muslim, seharusnya menjadi seorang ahlu ibadah (‘abid) adalah puncak keinginan. Ahlu ibadah yang benar-benar berpegang teguh kepada ilmu dan kebenaran. Tentu saja bukan berarti mengesampingkan bagian dunianya yang telah ditetapkan oleh Allah.

Alhasil ia merupakan muslim yang berjalan di muka bumi ini, tapi hati dan akalnya terikat dengan kehidupan kekalnya. Ia mengikatkan diri dengan ketentuan syari’at dalam setiap aktifitas kehidupannya.

Berkaca dari ayat tersebut, seorang muslim akan memegang konsekuensi logis yang membuatnya beda dengan manusia lain.

Ia akan memahami bahwa dalam hidup prestasi yang paling bernilai di hadapan Allah adalah ibadah itu sendiri, sebuah standar nilai yang tidak bisa ditawar lagi. Hal ini membuatnya mengerti tentang apa yang seharusnya ia lakukan, apa yang harus ditinggalkan dan ia tidak ragu-ragu dalam menentukan pilihannya.

Ia sadar bahwa hidup hanya sekali, kesempatan tidak datang dua kali sehingga ia tidak berani berspekulasi menyia-nyiakan waktu dan kondisinya untuk berbuat yang tidak bermanfaat bagi kehidupan kekalnya. Ia senantisa menjaga dirinya dari penyimpangan/maksiat dan tidak terpedaya dengan aneka ragam capaian-capaian duniawi tanpa iman.

Sehebat apapun orang-orang menyebutnya,
Seindah apapun tampilannya,
Sebanyak apapun pengikut dan pemujanya,
Serta sekeras apapun gaung yang bergema.

Tidak akan pernah sempat menyesali dan mempersoalkan takdir kauniyah Allah pada dirinya, sesuatu yang terbukti telah sering menyesatkan manusia. Penyesalan dan penolakan terhadap masalah ini akan membawa pada perasaan tidak puas dan pengingkaran terhadap nikmat Allah, dan baginya hanya ada dua pilihan untuk menyikapinya, bersyukur atau bersabar sembari terus berusaha/tawakkal.

Baginya kemasyuran, status sosial, ketampanan/kecantikan, kekayaan, kecemerlangan otak dan pengakuan orang lain atas apa yang ia lakukan, tidaklah sebanding dengan keberhasilannya sebagai hamba Allah.

Sebaliknya, tidak terkenal, miskin, tidak menarik secara fisik, tidak banyak pengikut dan dianggap fundamentalis, tidak menyurutkan langkahnya untuk beribadah dan berjuang mencapai prestasi tertinggi di sisiNya. Sudah jelas baginya parameter yang dia gunakan untuk segala aktifitasnya, satu-satunya keinginan yakni mendapatkan ridha Allah.

Ia akan senantiasa menilai orang lain dari sisi yang paling adil, yakni ketakwaaannya.

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa” (Al Hujuraat : 13)

Ia bukanlah orang yang memisahkan diri dari lingkungannya. Ia paham bahwa orang lain adalah mitra dalam perolehan amal shalih. Ia senantiasa berusaha memandang orang lain dari prestasi ibadahnya, tanpa melihat kepada ukuran-ukuran duniawi yang diskriminatif dan sempit serta terlihat tidak substansial alias palsu.

Dia kagumi orang/tokoh sejarah yang telah terbukti menorehkan prestasi emas peribadatan kepada Allah, dan ia berusaha untuk memperpanjang deretan “manusia-manusia” tersebut.

Sebaliknya, ia akan menganggap remeh dan kecil tokoh-tokoh “besar” yang sebenarnya bukan apa-apa dalam kacamata Dien dan Iman. Dari situ seharusnya seorang muslim bisa memilih. Dengan siapa ia akan menghabiskan usianya, memberikan loyalitasnya, dan berlepas diri dari segala pernak pernik etnis maupun geografis.

Itulah kompetisi dalam hidup, sehingga ia akan sangat memahami bahwasanya manusia-manusia yang memperturutkan hawa nafsunya dan mencapekkan diri untuk berebut kue dunia dengan menghalalkan segala cara, sungguh mereka sebenarnya tidak pernah mencetak prestasi apa-apa.

Sumber: http://situslakalaka.blogspot.com/2010/12/inilah-prestasi-manusia-yang-sebenarnya.html

Lagu Sunda

1. Jang, Mawar Bodas, Dina Amparan sajadah,

2. kustian : anak jalanan, ema.

3. Doel sumbang : Pepeling,


Template by : kendhin x-template.blogspot.com