ADA SATU suku di Indonesia, yang cukp unik kehiudpannya. Namanya Suku Tambus atau dikenal juga dengan sebutan Suku Laut. Mereka tinggal di pesisir Kepulauan Riau. Kabarnya, mereka --Suku Laut ini-- jarang atau malah tidak pernah menginjakan kaki di daratan. Pokoknya, semuanya dilakukan di atas laut. |
Mereka hidup di atas perahu dan berpindah-pindah di perairan Kepulauan Riau. Mereka adalah ahli-ahli laut tradisional yang memanfaatkan kekayaan laut untuk bertahan hidup. Dari kecil, anak-anak Suku laut sudah langsung diajarkan oleh mengenal laut dan isinya. Secara budaya, mereka memang nelayan yang handal.
Dengan perahu tradisional yang disebut Perahu Kajang, orang Suku Laut mengajarkan kepada anak dan cucu mereka untuk menjadikan laut sebagai sebagai sumber kehidupan. Jangan heran, kalau anak-anak di suku ini sedari kecil sudah jaogo menangkap ikan adan berenang. Karena air atau laut, adalah rumah mereka.
Sayangnya, kondisi itu berpengaruh ke taraf pendidikan dan tata cara pengaturan ekonomi. Memang, tidak mudah serta merta mengubah pola hidup yang sudah mereka anut ratusan tahun secara turun temurun. Tapi kini, mereka pun mulai terdesak oleh perdagangan bebas di Pulau Batam yang melintas jalur laut yang menjadi kehidupan Suku Laut ini.
Sejak saat itu, mulailah pemerintah berkampanye untuk merumahkan orang Suku Laut. Kini sebagian dari mereka sudah meninggalkan perahu dan mulai menempati rumah-rumah permanen yang disediakan pemerintah. Orang Suku Laut pun sudah mulai mengenal cara-cara hidup di darat. Bahkan, anak-anak Suku Laut sudah mulai mengenal sekolah dan yang dewasa belajar berdagang.
Dampaknya memang terasa. Suku Laut mau tidak mau, kini harus berhadapan dengabn kekuatan budaya baru yang bernama kapitalisme. Bayangkan saja, kini untk mencari Ikan saja sudah mulai sulit dicari dan keong laut yang sejak dulu menjadi sumber penghasilan utama penghasilan Suku Laut sudah tak tampak lagi di pantai. Mencari ikan pun kini menjadi sulit dicari dan harus jauh ke tengah laut.
"Mendaratkan" Suku Laut, juga dilakukan oleh pemerintah setempat. Tapi tentu saja tidak semudah membalik telapak tangan, lantaran dari lahir mereka sudah hidup di laut, jadilah "kekikukan budaya" dengan daratan.
sayangnya juga, kini bukan lagi ikan yang mereka cari di laut. Tapi sampah-sampah industri yang dibuang ke laut yang bisa mereka jual untuk didaur ulang. Sampah-sampah inilah yang menjadi sumber penghidupan Suku Laut. Tentu saja mereka sebenarya "bertariak" lantaran laut yang dulu begitu akrab dengan mereka, kini tiba-tiba seperti "menjauh".
Namun, tak semua orang Suku Laut mau berburu rezeki dari sampah industri. Kasim, misalnya. Pria berusia lanjut yang merupakan orang Suku Laut yang masih ada ini, lebih memilih untuk tetap mengikuti jejak leluhurnya, yakni menghabiskan waktu di atas perahu sambil berkelana mencari ikan.
Bagi nelayan Suku Laut, pekerjaan harian mereka baru dimulai saat matahari merayap tenggelam di ufuk barat. Sebab, pada saat seperti itulah ikan-ikan biasanya muncul ke permukaan untuk mencari makan. Orang Suku Laut percaya jika tikaman tombak pertama mengenai ikan, berarti rezeki akan datang melimpah pada si penombak.
Bicara sal pendidikan, Suku Laut termasuk "lmabat" dalam hal pendidikan. Hal ini bisa kita maklumi lantaran tidak mudah memang menyekolahkan anak, sementara mereka selalu hidup berpindah-pindah di laut. Tidak sedikit di antara mereka yang masih buta hurup meski dalam usia yang cukup dewasa.
Namun, merumahkan emreka dan 'mendaratkan' mereka juga bukan perkara mudah. Stereotipe bahwa suku tertinggal harus dirumahkan, nampaknya juga perlu dikombinasikan dengan budaya setempat yang memang sudah turun temurun mereka lakoni. Tapi, apapun hasilnya, suku ini menjadi kekayaan yang tak ternilai bagi Indonesia.