Senin, 28 September 2009

Banyak Bumi Lain di Luar Sana...

Para peneliti Inggris sangat yakin bahwa ada ’bumi-bumi’ lain di luar sana yang menunggu untuk ditemukan. Mereka mengatakan barangkali setengah dari sistem perplanetan yang diketahui saat ini memiliki sebuah planet seperti bumi yang bisa ditinggali.

Sejauh ini baru diketahui bahwa sebagian besar sistem perplanetan merupakan tempat tak dikenal, dimana terdapat planet-planet raksasa yang mengorbit sangat dekat dengan bintang induknya.
Namun peneliti Barrie Jones dan rekan-rekannya mengatakan, model yang mereka pakai dalam penelitian menunjukkan bahwa di balik keanehan ini, kemungkinan besar ada ruang bagi planet berbatu (rocky planet) seperti Bumi, di sistem-sistem perplanetan asing.

Dalam presentasi di pertemuan Astronomi Nasional Inggris, Selasa (5/4), mereka membuat model berdasar penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya, mengenai planet-planet di luar tata surya kita.

Para peneliti memperhitungkan berapa kemungkinan adanya planet seperti Bumi di sana, berdasarkan apa yang kita ketahui tentang bagaimana planet-planet terbentuk. Mereka juga mempertimbangkan kondisi yang dibutuhkan bagi kehidupan untuk bisa bertahan - misalnya posisinya terhadap bintang induknya, sehingga suhu planet tidak terlalu panas, tapi juga tidak terlalu dingin.

"Hasilnya, sekitar separuh dari sistem yang kita ketahui di luar tata surya kita sepertinya memiliki planet seperti Bumi. Tempat ini bisa mendukung kehidupan dan sudah ada sejak lama sehingga cukup waktu bagi kehidupan untuk berkembang," papar Jones.

Namun keterbatasan kemampuan teleskop telah membuat kita sangat sulit untuk mengamati planet-planet itu. Keberadaan planet-planet di luar tata surya bahkan belum bisa dideteksi secara langsung. Kebanyakan di antara mereka ditemukan setelah para astronom mengamati goyangan cahaya sebuah bintang yang terjadi ketika sebuah planet melintas di depannya.

Cara ini tentu saja tidak bisa memberikan ukuran yang tepat mengenai planet tersebut. Hanya diyakini, planet yang bisa menimbulkan goyangan cahaya pastilah memiliki gaya tarik besar dengan massa beberapa kali massa Jupiter. Ia juga pasti mengorbit sangat dekat dengan bintangnya, dengan jarak yang lebih dekat dari jarak Merkurius-Matahari.

Pemikiran ini menimbulkan masalah tersendiri karena teori yang diyakini sekarang adalah bahwa planet-planet besar itu mungkin terbentuk jauh dari bintang induknya sebelum akhirnya mendekat. Dan bila benar itu yang terjadi, maka dalam perjalanannya mendekati bintang induk, ia akan menghancurkan planet-planet lain di jalurnya, termasuk planet serupa Bumi bila ada.

Akan tetapi tim peneliti menyatakan kemungkinan adanya ’bumi-bumi’ lain bukan sesuatu yang mustahil karena ada banyak ruang dan waktu bagi planet seperti itu untuk berkembang. "Pada saat planet-planet raksasa itu bergerak, planet seperti Bumi belum terbentuk - mereka masih berupa calon planet. Calon planet ini memang tersingkir, namun simulasi kami menunjukkan bahwa planet masih bisa terbentuk."

Hasil simulasi menyimpulkan sekitar setengah dari sistem perplanetan memiliki setidaknya sebuah planet yang selama periode hidupnya cukup memberi kesempatan pada kehidupan untuk berkembang.

Bila kesimpulan ini benar adanya, maka kita bisa berharap suatu saat nanti menemukan bumi-bumi lain di luar sana yang mungkin dihuni makhluk-makhluk hidup.

Suku Tambus; Laut Adalah Hidup Matiku

ADA SATU suku di Indonesia, yang cukp unik kehiudpannya. Namanya Suku Tambus atau dikenal juga dengan sebutan Suku Laut. Mereka tinggal di pesisir Kepulauan Riau. Kabarnya, mereka --Suku Laut ini-- jarang atau malah tidak pernah menginjakan kaki di daratan. Pokoknya, semuanya dilakukan di atas laut.

Mereka hidup di atas perahu dan berpindah-pindah di perairan Kepulauan Riau. Mereka adalah ahli-ahli laut tradisional yang memanfaatkan kekayaan laut untuk bertahan hidup. Dari kecil, anak-anak Suku laut sudah langsung diajarkan oleh mengenal laut dan isinya. Secara budaya, mereka memang nelayan yang handal.

Dengan perahu tradisional yang disebut Perahu Kajang, orang Suku Laut mengajarkan kepada anak dan cucu mereka untuk menjadikan laut sebagai sebagai sumber kehidupan. Jangan heran, kalau anak-anak di suku ini sedari kecil sudah jaogo menangkap ikan adan berenang. Karena air atau laut, adalah rumah mereka.

Sayangnya, kondisi itu berpengaruh ke taraf pendidikan dan tata cara pengaturan ekonomi. Memang, tidak mudah serta merta mengubah pola hidup yang sudah mereka anut ratusan tahun secara turun temurun. Tapi kini, mereka pun mulai terdesak oleh perdagangan bebas di Pulau Batam yang melintas jalur laut yang menjadi kehidupan Suku Laut ini.

Sejak saat itu, mulailah pemerintah berkampanye untuk merumahkan orang Suku Laut. Kini sebagian dari mereka sudah meninggalkan perahu dan mulai menempati rumah-rumah permanen yang disediakan pemerintah. Orang Suku Laut pun sudah mulai mengenal cara-cara hidup di darat. Bahkan, anak-anak Suku Laut sudah mulai mengenal sekolah dan yang dewasa belajar berdagang.

Dampaknya memang terasa. Suku Laut mau tidak mau, kini harus berhadapan dengabn kekuatan budaya baru yang bernama kapitalisme. Bayangkan saja, kini untk mencari Ikan saja sudah mulai sulit dicari dan keong laut yang sejak dulu menjadi sumber penghasilan utama penghasilan Suku Laut sudah tak tampak lagi di pantai. Mencari ikan pun kini menjadi sulit dicari dan harus jauh ke tengah laut.

"Mendaratkan" Suku Laut, juga dilakukan oleh pemerintah setempat. Tapi tentu saja tidak semudah membalik telapak tangan, lantaran dari lahir mereka sudah hidup di laut, jadilah "kekikukan budaya" dengan daratan.

sayangnya juga, kini bukan lagi ikan yang mereka cari di laut. Tapi sampah-sampah industri yang dibuang ke laut yang bisa mereka jual untuk didaur ulang. Sampah-sampah inilah yang menjadi sumber penghidupan Suku Laut. Tentu saja mereka sebenarya "bertariak" lantaran laut yang dulu begitu akrab dengan mereka, kini tiba-tiba seperti "menjauh".

Namun, tak semua orang Suku Laut mau berburu rezeki dari sampah industri. Kasim, misalnya. Pria berusia lanjut yang merupakan orang Suku Laut yang masih ada ini, lebih memilih untuk tetap mengikuti jejak leluhurnya, yakni menghabiskan waktu di atas perahu sambil berkelana mencari ikan.

Bagi nelayan Suku Laut, pekerjaan harian mereka baru dimulai saat matahari merayap tenggelam di ufuk barat. Sebab, pada saat seperti itulah ikan-ikan biasanya muncul ke permukaan untuk mencari makan. Orang Suku Laut percaya jika tikaman tombak pertama mengenai ikan, berarti rezeki akan datang melimpah pada si penombak.

Bicara sal pendidikan, Suku Laut termasuk "lmabat" dalam hal pendidikan. Hal ini bisa kita maklumi lantaran tidak mudah memang menyekolahkan anak, sementara mereka selalu hidup berpindah-pindah di laut. Tidak sedikit di antara mereka yang masih buta hurup meski dalam usia yang cukup dewasa.

Namun, merumahkan emreka dan 'mendaratkan' mereka juga bukan perkara mudah. Stereotipe bahwa suku tertinggal harus dirumahkan, nampaknya juga perlu dikombinasikan dengan budaya setempat yang memang sudah turun temurun mereka lakoni. Tapi, apapun hasilnya, suku ini menjadi kekayaan yang tak ternilai bagi Indonesia.

Jumat, 04 September 2009

-. Petuah bulan Ramadhan .-

  • " kemurahan alam, seolah membawaku ke sorga penuh kesempurnaan./
  • "Kesempatan memperbaiki diri tuhan berikan lewat ibadah./
  • "Orang yang berbohong, akan terhina dengan kenyataannya sendiri./
  • "tak ada kata ragu bagi orang yang memiliki keyakinan./

  • "Menghirup udara pagi serasa bumi ini bersih dan mengantarkanku pada suasana udara saat pertama kali bumi diciptakan./

  • "Janganlah berprilaku tercela, kalau kamu tidak mau terluka./

  • "Alloh SWT mudah saja memberikan ketetapan, tapi Dia masih merlihat usaha hambanya./

  • "Percayalah bahwa tuhan selalu memberikan kelebihan pada tiap orang./

  • "Kematian adlah suatu kepastian yg tdk bisa dihindari./

  • "moto hidup : hemat, produktif, hidup kaya, masuk surga./
  • "Memilih kesederhanaan diri akan membuat hidup lebih berarti./

  • "Nikmat tidak bisa di beli tetapi di syukuri./
  • "Jangan salahkan kemiskinan, jangan salahkan keterbatasan, jangan salahkan hidup pas-pasan. intinya adalah PERJUANGAN./

create : Agus

Template by : kendhin x-template.blogspot.com