Senin, 27 Desember 2010

Apakah kalian mengira akan masuk surga?

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang padamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Kapankah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. Al-Baqarah:214)

Tafsir Ayat!
Allah berfirman: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga,” sebelum kamu dicoba dan diuji sebagaimana yang telah diberikan kepada orang-orang sebelum kamu. Oleh karena itu, Allah berfirman: “padahal belum datang padamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan,” berupa penyakit dan kematian.

Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, dan sejumlah tabi’in (generasi setelah sahabat) mengatakan,:“Yang dimaksud dengan al ba’sa ialah kemiskinan, sedangkan adh-dharra artinya rasa sakit.” “Serta diguncangkan,” yakni digentarkan oleh musuh-musuh dan diuji dengan ujian yang sangat berat. Sebagaimana hal itu dikemukakan dalam hadits sahih dari Khabab bin al-Arit, dia berkata:

“Wahai Rasulullah s.a.w., mengapa engkau tidak memintakan tolong untuk kami, mengapa engkau tidak berdoa untuk kami?” Beliau bersabda:
“Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu (ujiannya adalah) ada yang digergaji dan terbelah kepalanya hingga diantara kedua kakinya, tapi hal itu tidak memalingkan dari agamanya. Ada pula orang yang tubuhnya disisir besi hingga dagingnya terkelupas dari tulangnya, namun hal itu tidak memalingkan dari agamanya.” Beliau kemudian melanjutkan, “Demi Allah sesungguhnya Allah benar-benar akan menuntaskan perkara ini sehingga seorang penunggang yang berjalan dari Shan’a ke Hadhramaut tidak merasa takut kecuali kepada Allah, dan serigala hanya mengkhawatirkan domba mangsanya. Namun kalian adalah kaum yang grasa-grusu (tidak sabaran).

“Seperti yang telah menimpa orang-orang sebelum kamu,” maksudnya seperti jejak mereka, sebagaimana Allah berfirman, “Maka telah Kami binasakan orang-orang yang lebih besar kekuatannya dari mereka itu (musyrikin mekah) dan telah terdahulu perumpamaan umat-umat masa lalu.” (QS. Az-Zukhruf:8)

“Dan mereka telah diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Kapankah datangnya pertolongan Allah?”

Dalam hal ini mereka memohon kekuatan untuk dapat menaklukkan musuh-musuh mereka, berdoa agar penyelesaian semakin dekat sehingga dapat keluar dari kondisi dan kesulitan yang menghimpit.

“Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”

Firman ini, seperti firman Allah: “Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan dan sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan,”

Demikian pula kesulitan itu turun bersama pertolongan. Dalam sebuah hadits dikatakan: “Tuhanmu kagum terhadap keputusasaan hamba-hamba- Nya dan kecepatan datangnya pertolongan- Nya. Allah melihat mereka yang berputus asa, kemudian Dia pun tertawa karena Dia mengetahui bahwa hilangnya kesusahan mereka sudah dekat.” (al-Hadits)

Sumber: TAFSIR Ibnu KATSIR

Sabtu, 18 Desember 2010

Arif munandar -- Neno warisman

Seorang pemimpin akan timbul hanya pada anak yang berbakti

Obrolan:

+ Kita tidak boleh meminta amanah.
+ Klo ingin seorang anak jujur, maka orang tua harus jujur terlebih dahulu.
+ klo kamu belum bisa untuk membersihkan setidaknya kamu tidak mengotori.
+ klo ingin jadi pemimpin, dia harus membebaskan urusan pada dirinya sendiri.

Setiap orang memiliki masa untuk berubah dan perubahan itu hanya bisa timbul pada dirinya sendiri.

kriteria pemimpin

1. mementingkan orang lain, tdk hanya diri sendiri dan keluarga
2. transformasi -> perubahan yg fundamental. tidak hanya berfikiran sesaat
3. knstribusi -> berkepribadian memberi.

tak usahlah banyak bicara, bekerjalah dengan jujur, bekerja keras dan ikhlas.

Kamis, 02 Desember 2010

Ibu... banyak dosa ku kepada-MU


Manis sekali kenangan masa itu, saat ibunda pertama kali mengantar aku kesekolah. jalanan becek berlumpur hitam menghalangi setiap pagi, aku di gendongnya. akupun diam tak berkutik melihat perjuangannya.


sedikit aku melihat paras wajahnya dari belakang. aku tahu maksud ibunda, beliau tidak terima kalau sepatuku kotor, apalagi pas pertama kali aku masuk sekolah.

jalanan kesekolah di apit oleh sawah yang kalau terkena hujan akan becek. berlumpur sudah biasa, tapi tak biasa kalau lumur itu mengotori sepatu baru dan di hari pertama berkumpul di sekolah.

hati ibu mana yang tega, kalau sepatuku kotor dan mendapat ejekan dari teman. maka beliau rela menggendongku dengan jauh.

aku tahu ibuku tidak terima kalau hanya sepatuku yang kotor sedangkan sepatu teman-teman lainnya bersih, baru dan rapi. beliau ingin memperlihatkan bahwa anaknya sama seperti lainnya. setidaknya dalam hal kebersihan.

tanpa beliau suruhpun, aku bisa mempelajari arti sebuah perjuangan

dengan tingkah laku,

dengan kepribadian,

dengan contoh yang nyata.


tak omong belaka.
..


aku teringat kata ibu., "Dulu, ketika aku menikah, tidak pernah berpikir punya anak seperti apa, gimana jaganya, biayainya sekolah hingga lulus kuliah nanti... tapi kujalankan saja.

Ketika melahirkan dirimu, hampir diriku menyerah. namun bapakmu menyemangatiku di sampingku dengan setia walaupun aku sudah tidak berdaya, dan ketika itu aku ikhlaskan seluruh jiwaku untuk pergi lebih dulu.

hanya untuk meilhat dirimu lahir.

cont...

Rabu, 01 Desember 2010

dari pak mario teguh

Jangan beri peluang untuk hak kesedihanmu masuk yang bisa menutupi hak kebahagyaanmu yang sudah lama menetap di dalam diri.

Template by : kendhin x-template.blogspot.com