Para peneliti Inggris sangat yakin bahwa ada ’bumi-bumi’ lain di luar sana yang menunggu untuk ditemukan. Mereka mengatakan barangkali setengah dari sistem perplanetan yang diketahui saat ini memiliki sebuah planet seperti bumi yang bisa ditinggali. Sejauh ini baru diketahui bahwa sebagian besar sistem perplanetan merupakan tempat tak dikenal, dimana terdapat planet-planet raksasa yang mengorbit sangat dekat dengan bintang induknya. |
Namun peneliti Barrie Jones dan rekan-rekannya mengatakan, model yang mereka pakai dalam penelitian menunjukkan bahwa di balik keanehan ini, kemungkinan besar ada ruang bagi planet berbatu (rocky planet) seperti Bumi, di sistem-sistem perplanetan asing.
Dalam presentasi di pertemuan Astronomi Nasional Inggris, Selasa (5/4), mereka membuat model berdasar penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya, mengenai planet-planet di luar tata surya kita.
Para peneliti memperhitungkan berapa kemungkinan adanya planet seperti Bumi di sana, berdasarkan apa yang kita ketahui tentang bagaimana planet-planet terbentuk. Mereka juga mempertimbangkan kondisi yang dibutuhkan bagi kehidupan untuk bisa bertahan - misalnya posisinya terhadap bintang induknya, sehingga suhu planet tidak terlalu panas, tapi juga tidak terlalu dingin.
"Hasilnya, sekitar separuh dari sistem yang kita ketahui di luar tata surya kita sepertinya memiliki planet seperti Bumi. Tempat ini bisa mendukung kehidupan dan sudah ada sejak lama sehingga cukup waktu bagi kehidupan untuk berkembang," papar Jones.
Namun keterbatasan kemampuan teleskop telah membuat kita sangat sulit untuk mengamati planet-planet itu. Keberadaan planet-planet di luar tata surya bahkan belum bisa dideteksi secara langsung. Kebanyakan di antara mereka ditemukan setelah para astronom mengamati goyangan cahaya sebuah bintang yang terjadi ketika sebuah planet melintas di depannya.
Cara ini tentu saja tidak bisa memberikan ukuran yang tepat mengenai planet tersebut. Hanya diyakini, planet yang bisa menimbulkan goyangan cahaya pastilah memiliki gaya tarik besar dengan massa beberapa kali massa Jupiter. Ia juga pasti mengorbit sangat dekat dengan bintangnya, dengan jarak yang lebih dekat dari jarak Merkurius-Matahari.
Pemikiran ini menimbulkan masalah tersendiri karena teori yang diyakini sekarang adalah bahwa planet-planet besar itu mungkin terbentuk jauh dari bintang induknya sebelum akhirnya mendekat. Dan bila benar itu yang terjadi, maka dalam perjalanannya mendekati bintang induk, ia akan menghancurkan planet-planet lain di jalurnya, termasuk planet serupa Bumi bila ada.
Akan tetapi tim peneliti menyatakan kemungkinan adanya ’bumi-bumi’ lain bukan sesuatu yang mustahil karena ada banyak ruang dan waktu bagi planet seperti itu untuk berkembang. "Pada saat planet-planet raksasa itu bergerak, planet seperti Bumi belum terbentuk - mereka masih berupa calon planet. Calon planet ini memang tersingkir, namun simulasi kami menunjukkan bahwa planet masih bisa terbentuk."
Hasil simulasi menyimpulkan sekitar setengah dari sistem perplanetan memiliki setidaknya sebuah planet yang selama periode hidupnya cukup memberi kesempatan pada kehidupan untuk berkembang.
Bila kesimpulan ini benar adanya, maka kita bisa berharap suatu saat nanti menemukan bumi-bumi lain di luar sana yang mungkin dihuni makhluk-makhluk hidup.
Dalam presentasi di pertemuan Astronomi Nasional Inggris, Selasa (5/4), mereka membuat model berdasar penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya, mengenai planet-planet di luar tata surya kita.
Para peneliti memperhitungkan berapa kemungkinan adanya planet seperti Bumi di sana, berdasarkan apa yang kita ketahui tentang bagaimana planet-planet terbentuk. Mereka juga mempertimbangkan kondisi yang dibutuhkan bagi kehidupan untuk bisa bertahan - misalnya posisinya terhadap bintang induknya, sehingga suhu planet tidak terlalu panas, tapi juga tidak terlalu dingin.
"Hasilnya, sekitar separuh dari sistem yang kita ketahui di luar tata surya kita sepertinya memiliki planet seperti Bumi. Tempat ini bisa mendukung kehidupan dan sudah ada sejak lama sehingga cukup waktu bagi kehidupan untuk berkembang," papar Jones.
Namun keterbatasan kemampuan teleskop telah membuat kita sangat sulit untuk mengamati planet-planet itu. Keberadaan planet-planet di luar tata surya bahkan belum bisa dideteksi secara langsung. Kebanyakan di antara mereka ditemukan setelah para astronom mengamati goyangan cahaya sebuah bintang yang terjadi ketika sebuah planet melintas di depannya.
Cara ini tentu saja tidak bisa memberikan ukuran yang tepat mengenai planet tersebut. Hanya diyakini, planet yang bisa menimbulkan goyangan cahaya pastilah memiliki gaya tarik besar dengan massa beberapa kali massa Jupiter. Ia juga pasti mengorbit sangat dekat dengan bintangnya, dengan jarak yang lebih dekat dari jarak Merkurius-Matahari.
Pemikiran ini menimbulkan masalah tersendiri karena teori yang diyakini sekarang adalah bahwa planet-planet besar itu mungkin terbentuk jauh dari bintang induknya sebelum akhirnya mendekat. Dan bila benar itu yang terjadi, maka dalam perjalanannya mendekati bintang induk, ia akan menghancurkan planet-planet lain di jalurnya, termasuk planet serupa Bumi bila ada.
Akan tetapi tim peneliti menyatakan kemungkinan adanya ’bumi-bumi’ lain bukan sesuatu yang mustahil karena ada banyak ruang dan waktu bagi planet seperti itu untuk berkembang. "Pada saat planet-planet raksasa itu bergerak, planet seperti Bumi belum terbentuk - mereka masih berupa calon planet. Calon planet ini memang tersingkir, namun simulasi kami menunjukkan bahwa planet masih bisa terbentuk."
Hasil simulasi menyimpulkan sekitar setengah dari sistem perplanetan memiliki setidaknya sebuah planet yang selama periode hidupnya cukup memberi kesempatan pada kehidupan untuk berkembang.
Bila kesimpulan ini benar adanya, maka kita bisa berharap suatu saat nanti menemukan bumi-bumi lain di luar sana yang mungkin dihuni makhluk-makhluk hidup.

0 komentar:
Posting Komentar