Minggu, 09 Januari 2011

Masih Cerita Ibu...

Hampir sembilan bulan usia kandunganku.

Aku sempat menyerah dan mengeluh. Akankan tubuhku ini bisa kokoh menopang isi perutku yang selalu bergerak dan terkadang menendang-nendang,?? remuk rasanya.!! Tapi tak jauh aku berfikir, aku jalani saja. Semuanya badanku membengkak, kakiku seperti kaki gajah, jauhhh dari kata elok atau langsing seperti muda dulu.

Kali ini, Badanku merasa serba salah. Aku gak bisa lari, gak boleh jalan-jalan, tidur terus gelisah, bahkan tidurpun gak bisa terlentang. Aku hanya bisa tidur dengan posisi miring kekanan ataupun kekiri. Terkadang bahu tangnku sampai linu karena setiap hari herus menopang berat badanku. rasanya aku terpenjara oleh tubuhku sendiri.

Aku ingin mengistirahatkan terus tubuh ini, selonjorang di atas kasur dalam waktu yang lama. Dengan cara itu, mungkin disanalah aku mendapatkan kenyamanan. Namun menurut Cerita orang-orang dulu, usia hamil tua harusnya sering olahraga seperti jalan-jalan pendek supaya posisi bayi memudahkan kelahiran. Disinilah aku mulai menurut, karena aku takut terjadi apa-apa dengan bayiku.

Disampingku, ayahmu menemaniku. Sekilas, Aku sedikit menyaksikan wajah ayahmu seperti wajah kurang tidur. Tak banyak dia berbicara ketika itu hanya diam kemudian menuruti apa-apa yang ku suruh. Dia mengerti apa yang aku keluhkan, ikut merasakan. Ibu jadi serba salah,

Saat-saat itu emosi ibu menumpuk pikuk, seperti ada yang mengganjal dari hari ke hari. terpaksa unek-unek itu ibu keluarkan kepada ayahmu, hanya kepada ayahmu.!!..padahal ibupun tidak ingin melakukannya. Di suatu sisi ibu merasa lemah untuk menopang badan sendiri, disisi lain ibu tidak berdaya melawan sakit tubuh ini.

Akhirnya air mata ibu pun ikut menetes tak terasa.

Semua keinginanku, egoku, semuanya aku kesampingkan dulu.

Sangat panjang kalau semuanya ditulis dalam untaian cerita derita.

Namun tak lama sesaat kau lahir, cerita derita yang lalu semuanya seperti mimpi…

Tak berbekas, hanya indah tersisa.

di sinailah Ibu dan Ayahmu mulai bisa tersenyum,

karena mendengar teriak tangisan-mu yang sudah lama Ibu tunggu-tunggu.

suara kaulah Anakku.


Cont...

0 komentar:

Template by : kendhin x-template.blogspot.com