Aku mulai sebuah cerita dari tulisan ini, saat aku menginjak dewasa. Ibuku mulai terbuka ceritanya Sesaat setelah aku dilahirkan:
“Ibu tersenyum, ayahmu langsung mendekat dengan wajah binar, matanya berkaca-kaca bangga. Namun kau terus menangis keras seperti tidak terima dengan lingkungan baru, dunia yang fana. Dibalik jendela, berhembus suara-suara pelan “anaknya laki-laki, seorang satria” suasana di luar ramai dengan takjim hamdalah.
Ayahmu langsung menengok ibu, dia memandangku dengan penuh haru, mungkin karena melihat perjuangan ibu, dan teringat saat nenekmu melahirkan ayahmu dulu. Semua menjadi sunyi senyap kecuali tangismu saja yang terseak-seak mendominasi suasana. jendela, dinding, pintu dan semua ruangan menyaksikannya detik-detik itu.
Tak lama dari itu ayah langsung memegangmu erat, didengarkanlah nama Tuhan dan azan di dekat telingamu. hatinya berdo’a, begitupun ibu.
Ibu masih lelah seakan tenaganya habis, ibu hanya bisa tersenyum. tak bisa lebih dari itu. Untuk sebuah ibu, perjuangan terbesarnya adalah saat melahirkan anak. Apalagi dilakukan suatu hal yang tidak biasa karena pertama kalinya dialami. Proses lelahirkan memerlukan kondisi ibu dalam keadaan fit, saat ketuban pecah. Dinisilah diperlukan proses siaga.
Ibu mengalaminya sehari namun seperti setahun merasakanya, Belum lagi ditambah resiko menjadi seperti orang-orang yang di ceritakan. Seorang ibu bisa meninggal saat melahirkan. Tapi orang-orang beranggapan bahwa setiap wanita adalah kokoh, kuat dan super. Seperti itulah yang tampak dari luar. Tapi saat itu Ibu rasakan sebaliknya, Aku penuhi dunia dengan penuh ceria.”
Kaulah surgaku nak, untuk saat ini dan selamanya…

0 komentar:
Posting Komentar